Larasati, Melihat Gejolak Revolusi Pascaproklamasi dari Sisi Seorang Pelacur

10 Januari 2010 pukul 3:00 am | Ditulis dalam Coret-coret, Resensi Buku, Review | Tinggalkan komentar

Judul              : Larasati

Penulis           : Pramudya Ananta Toer

Penerbit         : Lentera Dipantera

Tahun terbit : 2003 (Naskah ini juga pernah diterbitkan oleh suratkabar Bintang Timur sebagai

cerita bersambung tahun 1960 dan Hasta Mitra tahun 2000)

Halaman        : 180 halaman

“Kalau mati, dengan Berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”

-Pramudya Ananta Toer-

Diatas merupakan kalimat pertama yang terbaca di sampul belakang buku ini. Seperti bukunya yang lain, cuplikan tersebut menggambarkan ruh Pram dalam isi buku. Sebenarnya ini bukan buku Pram yang pertama kali ku baca, karena memiliki isi yang lebih ringan daripada karyanya yang lain maka saya memilih buku ini terlebih dahulu untuk di review…🙂

Roman ini merekam pergolakan revolusi Indonesia pascaproklamasi antara kaum muda Vs “Generasi tua” yang korup dari sisi seorang Larasati -ara- seorang aktris panggung dan bintang film yang cantik. Penokohan yang sangat kuat menjadikan sosok ara sebagai tokoh utama. ara-sentris ini semakin terlihat ketika sebagian besar karakter tokoh yang ada tidak tergambar dari penampilan tokohnya. melainkan tergambar secara verbal dari mulut dan kegelisahan ara.

Diawali dari perjalanan ara dari pedalaman (Yogyakarta) menuju ke daerah penduduk (Jakarta) dengan tujuan agar bisa bermain film dan semakin melambungkan namanya. Tetapi didalam perjalanan keretanya tersebut ara mulai banyak melihat sisi perjuangan kaum muda dalam pergolakan revolusi. dari sinilah ara mulai bersimpati pada  kaum muda sebagai pejuang di bawah mempertahankan tanah airnya yang sangat dekat dengan maut ketika NICA menyerang. Sedangkan disisi lain, Kaum tua sebagai pemimpin yang korup dan licik semakin memperburuk makna Revolosi. Mungkin memang benar, perkataan bahwa ” sejarah besar itu tidak akan lahir tanpa adanya suatu ketertindasan dan pengkhianatan.”

“Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Rakyat apalagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan Orang lain” -ara-

Melihat potret pergolakan revolusi dari sisi seorang pelacur seperti ara memang membutuhkan penalaran yang cukup dalam. Apalagi bila kita sambil melihat kondisi kekinian. Dalam buku ini seakan terlihat jelas bahwa Pram ingin mengukuhkan sebuah komitmennya. ” Revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya bila setiap pribadi tampil berani. tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tetapi juga melawan keangkuhan dirinya sendiri.”

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: