Grameen Bank, Bank Untuk Pengentasan Kemiskinan

11 Januari 2010 pukul 9:34 pm | Ditulis dalam Blogging, Resensi Buku, Review | Tinggalkan komentar

Judul                     : Bank Kaum Miskin

Penulis                 : Muhammad Yusuf dan Alan Jolis

Penerbit              : Margin Kiri

Tahun terbit       : 2007

Halaman              : 275+xxvi Halaman

Kategori               : Buku non-fiksi

Kisah kegigihan  Muhammad Yusuf –Yusuf- seorang dosen ekonomi sekaligus dekan Universitas Chittagong,Bangladesh dan Grameen Bank dalam memberdayakan masyarakat miskin, membela hak-hak kaum perempuan yang selama ini diabaikan, melawan kelembagaan birokrasi, kekolotan sikap keagamaan, kekakuan cara berfikir akademis, kesewenang-wenangan lembaga keuangan internasional terangkum lugas dalam buku ini.

Cerita ini bermula pada tahun 1976 (4 tahun setelah kembali dari studi Phd di Amrik). Profesor Yusuf mulai galau dengan realita kemiskinan disekitar kampusnya. Dia memutuskan terjun ke desa Jobra (desa didekat kampusnya) untuk mengetahui subtansi “kaum manakah yang sebenarnya disebut miskin…??”  ternyata didapat jawaban yang mengejutkan bagi seorang pengajar ilmu ekonomi seperti dirinya. Bahwa Kemiskinan pada level paling bawah dialami oleh banyak perempuan –tepatnya yang telah menjadi ibu-, dimana mereka berjuang hanya untuk 2 sen sehari. Sungguh bertolak belakang dengan miliaran dollar yang ia bicarakaan saat mengajar di ruang kuliah. Akhirnya Yusuf mencari lembaga untuk menyalurkan pinjaman pada kaum miskin yang ia survey ia memutuskan untuk mencarikan pinjaman karena bantuan dengan cara memberi sejumlah uang dinilai tidak memberikan solusi yang baik. Kejutan kembali ia dapatkan, bank pemerintahan ternyata tidak mau mengucurkan pinjaman secara langsung kepada kaum miskin ini. Berangkat dari rasa gelisa, kecewa dan frustasi terhadap kebijakan bank pemerintah setempat yang tidak mau memberikan pinjaman kepada 42 kaum miskin desa Jobra lantaran tidak adanya jaminan yang diberikan dan kecilnya nominal pinjaman mereka sehingga dinilai tidak menguntungkan. pada awal tahun 1977 proyek percontohan Grameen Bank mulai berjalan. Dengan memberikan pinjaman kepada kelompok-kelompok kecil, kredit mikro ini berjalan dan berkembang.

Perjalanan Grameen Bank tidaklah mulus, banyak sekali tantangan dan halangan yang harus dilalui. Mulai dari kekolotan adat setempat yang menilai “perempuan tidah layak berurusan dengan uang”, pencarian sumberdana pengembangan untuk mengembangkan bank ini bisa dirasakan kaum miskin di semua wilayah Bangladesh, hingga tantangan dari alam, dimana banyak bencana melnda yang mengakibatkan usaha yang telah dibangun oleh para peminjam bank hilang. Dalam buku ini semuanya diceritakan secara mengharukan, bergejolak, dengan bahasa yang mudah dipahami dan tetap menjaga sistematika perjalanan Grameen Bank. Yah mungkin begitulah tulisan seorang akademisi….🙂

Kalau membaca buku ini tentunya pikiran akan terbawa kepada realita disekitar kita, karena memang kemiskinan memang masalah yang harus kita carikan solusi bersama. Bahkan kegelisahanpun sering muncul, dan pertanyaan sering keluar…

“Bagaimana kita harus berperan untuk hal ini…??!??”

Ada tiga kutipaan yang yang sangat membekas ketika ku membaca buku peraih hadiah Nobel Perdamain ini

Pertama, ketika Yunus mendebat seorang menager bank yang bersikeras bahwa bank pemerintah tidak mugkin memberi pinjaman tanpa jaminan pada kaum miskin karena resiko tidak kembalinya sangat besar. Yunus membantah:

“Mereka sangat punya alas an untuk membayar Anda kembali, yakni untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup esok harinya! Itu adalah jaminan terbaik yang bisa Anda dapatkan: Nyawa mereka!”

Kedua adalah ketika Yunus mulai frustasi karena kampus seperti “memagari diri” dari lingkungan disekitarnya –realita kehidupan- :

“Saya bersumpah akan belajar sebanyak mungkin tentang desa. Universitas-Universitas yang ada sekarang telah menciptakan kesenjangan yang hebat antara mahasiswanya dengan kenyataan hidup sehari-hari di Bangladesh.”

Serta

“Jika Universitas adalah gudang ilmu pengetahuan, maka sebagian pengetahuan itu harus dimanfaatkan untuk komunitas sekitarnya. Universitas semestinya tidak menjadi menaragading tempat akademisimencapai tingkat pengetahuan setinggi-tingginyatanpa berbagi sedikitpun temuan mereka.”

Buku yang inspiratif…

semoga membuka wawasan kita….🙂

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: